Inilah Akio Morita Sang Pendiri Sony

Pada tahun 1946, Perang Dunia II baru saja usai. Di ruang bawah tanah bekas department store, Akio Morita dan Masaru Ibuka mengerjakan tape recorder pertama Jepang. Suaranya masih jelek, namun ia bekerja. Dan dari awalan yang sederhana inilah, Sony terlahir. Selama 68 tahun berikutnya, Sony menjadi merek konsumen nomor satu di dunia. Orang yang bertanggung jawab untuk prestasi luar biasa ini adalah pemasar brilian yang memiliki perpaduan pola pikir antara Barat dan Timur: Akio Morita.

Morita pernah menulis sebuah buku berjudul Gakureki Muyō Ron, yang artinya “jangan pedulikan sejarah sekolah“. Di sini, ia menekankan bahwa catatan semasa sekolah tidak penting untuk kesuksesan.

“Saya menerapkan sebuah aturan bahwa, sekali kami mempekerjakan karyawan, maka catatan sekolahnya adalah masa lalu dan tidak lagi digunakan untuk mengevaluasi hasil kerjanya atau mempertimbangkan promosinya,” kata Morita.

Fokus Sony adalah mempekerjakan orang-orang yang mampu bekerjasama. Morita tidak pernah peduli apakah karyawannya datang dari universitas terbaik, atau jika mereka memiliki nilai terbaik.

Prinsip ini datangnya bukanlah sekedar demi kenyamanan Morita. Bukan berarti ia tidak lulus secara prestisius. Morita justru memperoleh gelar sarjana di bidang fisika dari Osaka Imperial University. Ia bahkan terlahir dari sebuah keluarga kaya. Keluarganya memiliki bisnis penyulingan bir. Dan sebagai anak tertua, ia diharapkan mengambil alih bisnis keluarga. Akan tetapi, minat Morita berada di tempat lain.

“Ketika di SMA, ayah saya membelikan sebuah fonograf. Suaranya fantastis. Saya sangat terkesan. Saya mulai bertanya-tanya bagaimana dan mengapa suara tersebut keluar. Saat itulah saya menemukan minat saya di elektronik,” katanya. Maka, ia meyakinkan ayahnya untuk membiarkan adiknya meneruskan bisnis keluarga, sementara ia melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.

Jadi, kenapa catatan sekolah tidak penting bagi Morita?

“Setiap orang terlahir dengan kemampuan kreatif, tapi sangat sedikit yang tahu bagaimana menggunakannya,“ katanya. Menurutnya, tugas utama manajemen adalah membantu mengeluarkan kemampuan terbaik karyawan mereka. Dan mempertimbangkan catatan sekolah karyawan justru sama sekali tidak membantu.

Manajemen harus mampu menciptakan perasaan seperti keluarga dalam korporasi. Bahwa karyawan dan manajer berbagi nasib yang sama. Oleh sebab itu, Setiap ada kesempatan, Morita akan menggunakannya untuk mengunjungi setiap pabrik dan menemui setiap karyawannya. Dia ingin memastikan bahwa karyawan mereka merasa diperlakukan layaknya manusia, bukan alat.

“Saya percaya bahwa salah satu alasan kami mampu melalui periode pertumbuhan yang luar biasa adalah karena kami memiliki atmosfir diskusi yang bebas. Sebuah perusahaan tidak akan pergi kemanapun jika pemikiran hanya diserahkan pada manajemen.”


Motivasi tidak datang dari uang

Teori populer yang sering digaungkan Morita adalah ‘motivasi kerja tidak datang karena uang’.

“Saya percaya bahwa orang-orang bekerja untuk kepuasan,” katanya. “Uang bukan satu-satunya cara untuk memberi kompensasi seseorang atas pekerjaannya. Mereka memang butuh uang. Akan tetapi mereka juga ingin kebahagiaan dalam kerja mereka, dan bangga karenanya.”

Maka menurutnya, perusahaan harusnya tidak membuang anggaran mereka untuk memberi bonus dan tunjangan besar bagi eksekutif. Alih-alih, manajemen harus mampu menyediakan gol yang jelas.

“Solusi saya untuk mengeluarkan kreatifitas adalah selalu mengatur target,” katanya. “Manajemen harus memberikan target yang konstan pada teknisi.”

Sumber : studentpreneur.co

0 Response to "Inilah Akio Morita Sang Pendiri Sony"

Post a Comment