Kisah Pebisnis Terkaya di Inggris Memiliki Keterbatasan Membaca

Untuk jadi orang terkaya di Inggris, Richard Branson tidak pernah menamatkan sekolahnya. Baginya, sekolah justru adalah mimpi buruk. Disleksia membatasi kemampuannya untuk menghafal. Dan logikanya, sekolah dari jaman dulu sampai sekarang masih sangat tergantung pada kemampuan hafalan.

“Ketika jaman saya sekolah dulu, hanya sedikit orang yang memahami apa itu disleksia dan apa yang harus dilakukan padanya,” kata Branson. “Guru saya berpikir kalau saya malas. Maka, ketika masih 16 tahun, saya meninggalkan sekolah. Sebagian karena disleksia. Saya tidak dapat mengikuti pelajaran, sehingga saya tidak menemukan dimana menariknya dan dengan mudah teralihkan.”

Di hari terakhir sekolahnya, kepala sekolah Branson berkata padanya, ‘kalau tidak berakhir di penjara, maka ia akan jadi milyuner’. “Ini adalah prediksi yang menakutkan, namun dia benar dalam beberapa hal,” katanya seperti dikutip dari laman studentpreneur.co.

Branson tidak sendirian. Sebuah survei kepada 139 pemilik bisnis di Amerika Serikat menunjukkan bahwa satu dari tiga responden teridentifikasi mengidap disleksia. Mereka memiliki keterbatasan membaca yang membuat otak menjadi lebih sulit mengenali dan memproses simbol. Bagi individu seperti ini, tidak peduli seberapa pintarnya mereka, membaca dan menulis menjadi sebuah tantangan ekstra. Katanya, entrepreneur seperti Thomas Alfa Edison, Hendry Ford, Ted Turner dan Charles Schwab juga mengidap disleksia. Bahkan Albert Einstein juga dianggap mengidap keterbatasan membaca ini. Ia pernah mengatakan, “Suatu keajaiban bagaimana rasa ingin tahu mengalahkan edukasi formal.”

Apa yang dianggap kelemahan, justru jadi kekuatan terbesar Branson. Pengidap disleksia justru lebih terampil mengenali pola dan merangkul gambaran besar. “Saya bisa melihat dengan cara yang berbeda dibanding teman-teman sekelas saya. Selama tahun-tahun remaja saya, saya sangat terfokus untuk menciptakan sesuatu.”

Hal inilah yang mendorongnya menciptakan majalah, bisnis pertamanya. Dan selama bertahun-tahun kemudian, cara berpikir Branson yang berbeda membantunya membangun Virgin Group. Disleksia Branson justru menuntun bagaimana Virgin berkomunikasi dengan konsumen. Setiap kali mereka meluncurkan produk baru, Branson memastikan setiap material marketing dan iklan lolos persetujuannya. Jika ia bisa memahaminya dengan cepat, maka material tersebut lolos. Baginya, pesan terbaik adalah ketika dapat dimengerti dalam sekali lirik.

“Saya belajar untuk fokus pada apa-apa yang bisa saya lakukan, dan mendelegasikan pada orang lain apa yang tidak bisa saya lakukan. Begitulah Virgin bekerja. Orang-orang yang fantastik menjalankan bisnis kami. Membiarkan saya untuk berpikir kreatif dan strategis. Ini tidak mudah. Akan tetapi, ketika Anda mengidap disleksia, Anda harus belajar untuk mempercayai orang lain untuk melakukan tugas Anda. Anda belajar untuk membiarkan.”

Sekarang, pemimpin dari 150 lebih perusahaan yang berada di bawah bendera Virgin ini memiliki kekayaan pribadi sekitar $3 miliar. Dia masih memegang rekor tercepat melintasi samudra Atlantik dengan kapal. Dia masih berharap untuk jadi yang pertama mengelilingi dunia dengan balon. Ini adalah kesuksesan yang mungkin, tidak akan pernah Anda duga asalnya dari seorang anak penderita rabun dekat pengidap disleksia.

0 Response to "Kisah Pebisnis Terkaya di Inggris Memiliki Keterbatasan Membaca"

Post a Comment